Belajar Dari Pengalaman, Peserta Workshop SES 2015 Pahami Cara Pelaporan Kegiatan

SURABAYA – Pelaporan dan evaluasi kegiatan menjadi point penting yang dibahas Tunas Hijau dalam workshop program Surabaya Eco School 2015 di SMPN 36, Sabtu (22/08). Workshop yang diikuti oleh lebih dari 37 perwakilan sekolah dasar kelompok 6 di wilayah selatan. Dalam workshop lingkungan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Surabaya membahas minimnya follow up yang dilakukan sekolah pasca workshop I SES 2015.

Perwakilan siswa peserta workshop I Surabaya Eco School 2015 kelompok 6 mencoba memasukkan tangannya ke dalam pengomposan untuk mengetes pengomposan tersebut masih berfungsi

Perwakilan siswa peserta workshop I Surabaya Eco School 2015 kelompok 6 mencoba memasukkan tangannya ke dalam pengomposan untuk mengetes pengomposan tersebut masih berfungsi

Fatih Abdul Aziz, aktivis muda Tunas Hijau, menjelaskan bahwa untuk bisa mendapatkan pembinaan lingkungan hidup dari Tunas Hijau, sekolah peserta workshop harus mengerjakan beberapa tugas pasca workshop dan mengirimkan laporan kegiatannya. “Kadang kala, sekolah melupakan point pelaporan kegiatan, jadi mereka sudah mengerjakan tugas pasca workshopnya, tetapi lupa untuk mengirimkan laporannya, padahal laporan tersebut menjadi syarat pembinaan dan maju ke tahap selanjutnya,” terang Fatih.

Mendukung pernyataan alumni SMAN 14 itu, Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau, menambahkan bahwa pembinaan lingkungan yang dilakukan bergantung pada tingkat keaktifan sekolah memberikan feedback pasca workshopnya. “Kalau setelah workshop I SES 2015 sekolah-sekolah langsung menindak lanjuti tugas pasca workshopnya, lalu mengirimkan laporan kegiatannya, ya kami akan agendakan untuk pembinaan ke sekolahnya. Tetapi kalau tidak dilakukan ya, kami tidak tahu perkembangan di sekolahnya, otomatis membuat kami tidak ke sekolahnya,” ujarnya.

Perwakilan peserta workshop SES 2015 kelompok 6 tidak jijik untuk mengolah sampah organik sisa makanan dari makan siang saat workshop dengan menggunakan keranjang pengomposan milik SMPN 36

Perwakilan peserta workshop SES 2015 kelompok 6 tidak jijik untuk mengolah sampah organik sisa makanan dari makan siang saat workshop dengan menggunakan keranjang pengomposan milik SMPN 36

Penjelasan tersebut langsung direspon oleh peserta workshop dengan meminta simulasi pengiriman laporan kegiatan lingkungan. Direktur Surabaya Eco School 2015, mengajak mereka untuk berkeliling sekolah untuk melihat upaya pengomposan yang sudah dilakukan oleh kader lingkungan SMPN 36. “Mari kita berkeliling area sekolah untuk belajar pengomposan, siapkan kamera hp ataupun kamera digital karena kita sekaligus latihan simulasi pengiriman laporan. Silahkan gunakan kamera yang dimiliki untuk mendokumentasikan kegiatan yang diikuti oleh siswanya,” ujarnya.

Penuh penasaran, merekapun mendengarkan penjelasan dari aktivis Tunas Hijau mengenai proses pengomposan menggunakan berbagai cara seperti pengomposan komunal dan tong aerob. Menariknya, sembari mendengarkan penjelasan dari aktivis Tunas Hijau, beberapa guru mendokumentasikan kegiatan pengomposan dengan menggunakan tong aerob. “Nah, kalau ibu sudah mendokumentasikannya, langkah selanjutnya adalah memberikan keterangan foto berupa penjelasan kegiatan, lalu dikirimkan melalui facebook page Tunas Hijau Indonesia,” ujar Fatih.

Aksi yang dilakukan oleh beberapa guru tersebut, memancing guru yang lainnya untuk menerapkan simulasi mendokumentasikan kegiatan, menulis keterangan foto kegiatan sampai mengirimkan hasil jepretannya ke facebook page Tunas Hijau Indonesia. Sugeng Suranto, guru pembina SDN Pakis III, mengatakan bahwa dirinya mengira pelaporan yang dimaksud adalah membuat laporan formal tertulis seperti makalah. “Kalau seperti ini ya sangat mudah, tetapi juga harus siap paketan internetnya,” ucapnya sambil tertawa. (ryn)