Challenge Pekan 2 SES 2015: Pengurangan Sampah Plastik dan Pembuatan Mading Konservasi Air

Challenge Week 2 Surabaya Eco School 2015

Challenge Week 2 Surabaya Eco School 2015

SURABAYA - Gerakan peduli lingkungan hidup sekolah-sekolah Surabaya melalui program Surabaya Eco School 2015 memasuki pekan kedua. Seperti halnya pekan pertama, pekan lalu, yang menghadirkan challenge/tantangan/tema khusus, pekan kedua ini (31 Agustus – 6 September 2015), pekan kedua ini juga kembali dihadirkan challenge

Challenge Pekan 2 Surabaya Eco School 2015 adalah “Pengurangan Sampah Plastik dan Pembuatan Mading Konservasi Air.” Pengurangan sampah yang dimaksud adalah realisasi dari R (reduce atau kurangi) pertama pada prinsip pengolahan sampah 3R  (Reduce, Reuse, Recycle). Seperti misalnya pelarangan penggunaan/penyediaan sedotan minuman di kantin sekolah.

Upaya pengurangan sampah plastik lainnya yang bisa dilakukan adalah penggunaan gelas yang bisa digunakan berulang kali menggantikan gelas atau kantong plastik minuman yang cenderung satu kali pakai. Bisa juga dengan penyediaan piring atau wadah makanan yang bisa digunakan berulang kali di kantin sekolah.

Sekolah juga menerapkan ajakan kepada seluruh warganya (siswa, guru dan karyawan) untuk membawa bekal makanan dan minuman sendiri dari rumah dengan wadah yang bisa digunakan berulang kali. Upaya ini sesuai dengan gerakan bawa bekal makanan dan minuman dari rumah yang telah didengungkan oleh Pemerintah Kota Surabaya kepada seluruh sekolah Surabaya.

Untuk realisasi pengurangan sampah plastik, tim lingkungan hidup sedapatnya menyertakan data terukur. Data terukur yang dimaksud adalah jumlah sampah plastik yang berhasil direduksi atau dikurangi setelah upaya pengurangan dilakukan. Caranya, hitung jumlah sampah plastik awal sebelum upaya dilakukan, dan bandingkan dengan jumlah sampah plastik setelah upaya pengurangan dilakukan.

Mind Map Konservasi Air Surabaya Eco School 2015

Mind Map Konservasi Air Surabaya Eco School 2015

Sedangkan untuk realisasi Mading Konservasi Air, tim lingkungan hidup masing-masing sekolah bisa membuatnya bebas dalam bentuk dua dimensi atau tiga dimensi. Ukuran madingnya juga bebas. Bahan yang digunakan untuk membuat mading seyogyanya dari bahan-bahan yang ramah lingkungan hidup atau tidak berbahaya bagi lingkungan hidup. Hindari penggunaan sterofoam untuk bahan mading. Sebab, sterofoam tidak bisa didaur ulang.

Mading Konservasi Air seyogyanya dibuat dengan semenarik mungkin dengan memadukan gambar dan teks, teori dan hasil survei, serta kiat-kiat praktis dan larangan. Selanjutnya, mading yang selesai dibuat tidak perlu dikirim ke Tunas Hijau. Mading yang sudah dibuat cukup dipasang di lokasi strategis yang bisa memudahkan warga sekolah membacanya.

Untuk penentuan peraih penghargaan Progress of the Week, sekolah cukup mengirimkan foto plus artikelnya mengenai mading dan proses pembuatannya, beserta upaya pengurangan sampah plastik yang diterapkan mulai pekan ini. Pengiriman melalui email ses.tunashijauindonesia@gmail.com. Foto dan artikel realisasi challenge pekan 2 ini juga bisa diunggah melalui social media Tunas Hijau. (ron)