Realisasi Challenge Pekan I, Setiap Warga SDN Kapasari 8 Jumat Besok Kumpulkan Koran Bekas

Kader lingkungan SDN Kapasari VIII belajar memahami program Surabaya Eco School 2015 melalui peta konsep atau mind map Surabaya Eco School 2015 dan mempraktekkan setiap simbol yang ada pada peta konsep tersebut saat pembinaan lingkungan di sekolahnya

Kader lingkungan SDN Kapasari VIII belajar memahami program Surabaya Eco School 2015 melalui peta konsep atau mind map Surabaya Eco School 2015 dan mempraktekkan setiap simbol yang ada pada peta konsep tersebut saat pembinaan lingkungan di sekolahnya

SURABAYA – Realisasi tantangan pekan pertama baru akan digelar saat Jumat Sehat di SDN Kapasari VIII. Namun, kader lingkungan hidup sekolah yang berlokasi di Jalan Kusuma Bangsa itu mempunyai rencana yang lain. Lebih dari 40 orang siswa kelas 4 itu membuat gerakan pengumpulan sampah kertas yang dimulai dari kelas mereka sendiri. Informasi tersebut ditemui Tunas Hijau saat menggelar pembinaan Surabaya Eco School 2015 yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kota Surabaya di sekolahnya, Kamis (27/08).

Dalam pembinaan lingkungan ini, berbekal peta konsep atau mind map Surabaya Eco School 2015, Anggriyan Permana, aktiivis senior Tunas Hijau, mengajak kader lingkungan yang baru ini lebih mengenal program lingkungan yang sudah berusia 5 tahun ini. “Jadi perlu kalian tahu adek-adek kalau Surabaya Eco School itu program lingkungan yang mengajak sekolah untuk melakukan aksi seperti yang ada pada gambar atau tulisan di peta konsep ini. Salah satunya adalah gambar pemilahan sampah ini,” ucap Anggriyan.

Kader lingkungan SDN Kapasari VIII, menerapkan setiap simbol yang ada pada peta konsep Surabaya Eco School 2015 salah satunya adalah melakukan pemilahan sampah. Di sekolahnya, pemilahan sampah dibagi menjadi tiga jenis yaitu sampah organik, sampah kertas dan sampah plastik

Kader lingkungan SDN Kapasari VIII, menerapkan setiap simbol yang ada pada peta konsep Surabaya Eco School 2015 salah satunya adalah melakukan pemilahan sampah. Di sekolahnya, pemilahan sampah dibagi menjadi tiga jenis yaitu sampah organik, sampah kertas dan sampah plastik

Tidak hanya sekedar menunjukkan gambar saja, untuk lebih memahami dan mengenalkan ragam kegiatannya, Tunas Hijau mengajak mereka untuk langsung praktek berinteraksi dengan setiap gambar yang menjadi simbol dalam peta konsep tersebut. Berawal jijik, keempat orang siswa yang tadinya agak segan melakukan pemilahan sampah langsung menjadi bersemangat untuk memisahkan sampah antara sampah organik, sampah kertas dan sampah plastik. “Nah, tugas kalian adalah memastikan pemilahan sampah ini berjalan terus di sekolah,” imbunya.

Peta konsep program Surabaya Eco School 2015 tersebut ternyata mampu menarik perhatian kader lingkungan baru untuk membacanya. Satu demi satu kata di setiap akarnya dibaca dan dicatat. Kartika, salah seorang siswa kelas 4, mengaku bahwa tahun lalu dalam pelaksanaan Surabaya Eco School 2014 dirinya hanya berpartisipasi dalam satu kegiatan saja, tetapi kali ini dirinya bisa tergabung dalam satu tim lingkungan. “Saya ingin sekali bisa peduli lingkungan, sampai bertemu walikota Surabaya,” ujar Kartika.

Tantangan pekan pertama diawali oleh kader lingkungan dengan melakukan pengumpulan dan pemilahan sampah yang dimulai dari kelas 4. Menurut Eny Murtiningtyas, guru pembina lingkungan SDN Kapasari VIII, sebenarnya realisasi tantangan pekan pertama akan dilakukan besok saat Jumat sehat. “Saya sudah mengumumkan kepada warga sekolah untuk membawa minimal 5 edisi koran bekas yang ada di rumahnya sebagai bentuk partisipasi mereka untuk menjalankan tantangan, sampah yang sudah terkumpul besokpun langsung dijual,” ucapnya.

kader lingkungan SDN Kapasari VIII, belajar menimbang sampah kertas yang sudah terkumpul agar bisa terukur berapa jumlah sampah kertas yang berhasil dikumpulkan setiap harinya saat pelaporan realisasi tantangan pekan pertama SES 2015

kader lingkungan SDN Kapasari VIII, belajar menimbang sampah kertas yang sudah terkumpul agar bisa terukur berapa jumlah sampah kertas yang berhasil dikumpulkan setiap harinya saat pelaporan realisasi tantangan pekan pertama SES 2015

Dengan menggunakan timbangan daging, merekapun mulai memilah sampah kertas yang masih layak dijual dan koran-koran untuk ditimbang. Koran-koran bekas milik siswa yang sebelumnya sudah diminta untuk membawa dari rumahpun ditimbang. Aksi penimbangan kertas ini menjadi seru, karena kali pertama mereka belajar menimbang kertas. “Saya sampai tertawa melihat tingkah laku anak-anak saat menimbang sampah kertas yang sudah terkumpul,” ujar Eny. Merekapun berhasil mengumpulkan 11,5 kg sampah kertas dan koran-koran bekas. (ryn)