SMAN 12 Raup 450 Ribu Rupiah Dari 250 Kg Sampah Kertas Hasil Realisasi Challenge Pekan I

SURABAYA – Sebanyak 250 kg sampah kertas menjadi capaian dari kader lingkungan SMAN 12 dalam merealisasikan tantangan pekan pertama program Surabaya Eco School 2015. Informasi tersebut disampaikan oleh Imam Hambali, ketua kader lingkungan yang baru saat pembinaan lingkungan hidup Surabaya Eco School 2015 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya, Jumat (28/08).  Dari jumlah sebanyak itu, mereka bisa mendapatkan uang sebesar 450 ribu rupiah dari penjualan sampah kertasnya.

Kader iingkungan SMAN 12 langsung menjual sampah kertas yang sudah dikumpulkan selama seminggu dalam realisasi tantangan pekan pertama SES 2015

Kader iingkungan SMAN 12 langsung menjual sampah kertas yang sudah dikumpulkan selama seminggu dalam realisasi tantangan pekan pertama SES 2015

Imam menjelaskan bahwa jumlah sebanyak itu didapat dengan cara melibatkan warga sekolah melalui program bank sampah. Siswa kelas 11 IPA ini menceritakan saat kali pertama membaca tantangan pekan pertama pada media sosial facebook, dirinya langsung membuat strategi dengan melibatkan warga sekolah melalui bank sampah ini. “Setelah tahu tantangan minggu pertama, saya langsung umumkan melalui radio sekolah bahwa setiap kelas diminta untuk mengumpulkan kertas selama satu minggu dan disetorkan ke bank sampah,” ujar Imam.

Selama sepekan, setiap warga sekolah membawa sedikitnya dua edisi koran bekas untuk dikumpulkan di kelas masing-masing. “Dengan adanya tantangan pengumpulan sampah kertas ini, biasanya setiap pulang sekolah, kader lingkungan mengingatkan untuk setiap perwakilan kelas untuk menyetorkan sampah kertasnya ke bank sampah. Alasannya, kalau dibiarkan menumpuk di dalam kelas, ada penjaga sekolah yang mengambilnya lalu dijadikan satu lagi dengan jenis sampah lainnya, kan sayang,” ujar Dwi Anita, siswa kelas 11 yang juga kader lingkungan.

Kader lingkungan SMAN 12 mencoba mengolah kembali kotak kompos dengan diberi air untuk menjaga kelembaban sampah organik di dalam kotak kompos tersebut untuk menghadapi SES 2015

Kader lingkungan SMAN 12 mencoba mengolah kembali kotak kompos dengan diberi air untuk menjaga kelembaban sampah organik di dalam kotak kompos tersebut untuk menghadapi SES 2015

Menariknya, kader lingkungan yang juga koordinator bank sampah ini menambahkan bahwa sebenarnya mereka sudah terlebih dahulu melakukan gerakan pengumpulan sampah kertas dan botol plastik. “Sejak pasca workshop SES 2015, lalu setelah kami menggelar workshop internal, kami langsung bergerak cepat dengan melakukan upaya pengumpulan sampah kertas dengan melibatkan warga sekolah. Dua minggu lalu, kami baru saja melakukan pengumpulan sampah kertas lalu dijual, jadi karena adanya tantangan ini ya akhirnya kami lakukan lagi,” ujar Dwi Anita

Tidak hanya sudah merealisasikan tantangan pekan pertama, kader lingkungan sekolah yang tahun lalu menjadi sekolah 5 besar SES 2014, ini menyiapkan pengomposan untuk menghadapi Surabaya Eco School 2015. Target besarpun direncanakan bisa dicapai selama pelaksanaan SES 2015, targetnya adalah selama program lingkungan yang sudah berjalan selama 5 tahun ini bisa menghasilkan kompos minimal 100 kg. “Kemarin rabu, kami baru saja memanen kompos yang berasal dari keranjang dan tong komposter. Hasilnya sebanyak 58 kg,” ujarnya.

Salah satu persiapan yang dilakukan adalah dengan melakukan pengadukan pada kotak pengomposan yang sejak tahun lalu belum juga berhasil dipanen komposnya. Menurut Dwi Anindita, salah seorang siswa kader lingkungan, mengatakan kendala yang mereka hadapi dalam mengolah kotak pengomposan adalah kondisi sampah organik di dalam kotak tersebut yang cepat kering setelah diberi air agar lembab.

“Karena sudah lama kami tidak ngopeni kotak kompos ini, tadi setelah kami beri banyak air, lalu kami bolak balik sampahnya, kami baru tahu kalau bagian bawahnya sudah hampir jadi,” ujar Dwi Anindita, siswa kelas 11 IPA. (ryn)