SMAN 16 Targetkan Penuhi Sumurkura

SURABAYA – Beragam potensi lingkungan hidup dimiliki SMAN 16. Diantara potensi itu adalah yang berkaitan dengan konservasi air, yaitu gerakan lubang resapan biopori yang digalakkan di sekolah yang dikepalai Hari Sutanto ini. Dimana setiap kelas diharuskan membuat 3 lubang biopori di sekolah. Dengan 32 kelas, berarti akan ada sedikitnya 96 lubang biopori baru di SMAN 16. 

Bank sampah SMAN 16 Surabaya turut berperan aktif dalam pengurangan sampah yang dikirim keluar sekolah

Bank sampah SMAN 16 Surabaya turut berperan aktif dalam pengurangan sampah yang dikirim keluar sekolah

Fakta inilah terlihat saat Tunas Hijau bersama Eco Mobile PJB  melakukan pembinaan lingkungan hidup Surabaya Eco School 2015 di SMAN 16, Senin (31/08).  Selain gerakan pembuatan lubang resapan biopori baru. SMAN 16 juga mempunyai program yang tak kalah menariknya yaitu Jumat Prei Plastik.

Program tersebut dilaksanakan bebarengan dengan kegiatan rutin SMAN 16 Surabaya yaitu Jumat Bersih. Muhammad Riski Fidianto, salah satu siswa pencetus ide tersebut, mengungkapkan bahwa dirinya terinspirasi ketika ia SMP dahulu. Menurutnya dengan membawa botol minum serta tempat sampah sendiri terbukti efektif mengurangi produksi sampah. Selain itu, ia juga melihat di pujasera SMAN 16 masih banyak penjual yang nakal dengan membungkus menggunakan kertas minyak.

Bank sampah juga salah satu program unggulan SMAN 16. Pasalnya program itulah yang sudah dilaksanakan oleh seluruh siswa. Mulai dari kelas 10 hingga kelas 12 turut berkontribusi untuk memilah sampah mereka. “Setiap kelas kami beri 2 trash bag. Dimana satu trash bag untuk sampah plastik sedangkan untuk trash bag lainnya untuk menampung sampah kertas mereka,” ujar Rafif  Alim yang juga salah satu tim lingkungan kelas 10.

Fatih Abdul Aziz, aktivis muda Tunas Hijau, yang diajak mengelilingi sekolah untuk memetakan potensi sekolah, terkejut dengan melimpahnya sampah daun kering yang terdapat di SMAN 16 Surabaya. “Kami berusaha mengolah sampah daun yang ada di sekolah kami dengan 2 media yang kami punya yaitu tong komposter aerob dan sumurkura,” ujar I Gusti Ngurah Dika yang sekaligus ketua SGGS (sebutan tim lingkungan SMAN 16 Surabaya).

Untuk sumurkura, mereka baru saja melakukan panen raya. Dari 8 sumurkura yang mereka punya 2 diantaranya sudah mereka panen. Sedikitnya 82,5kg kompos dihasilkan dari 2 sumur kura. Ketika ditanya kapan sumurkura ini akan penuh, mereka menjawab setidaknya dalam 2 pekan ini mereka menargetkan sumurkura yang mereka punyai akan penuh oleh sampah organik. “Setidaknya ada 350 kg sampah organik yang harus kami masukkan ke dalam sumurkura ini,” ujar Nurmay Farrah, siswa anggota SGGS. (fatih/ro)