SMPN 19 Mulai Program Lingkungan Dengan Pengomposan Tong Aerob

SURABAYA – Tunas Hijau bersama mobil edukasi keliling lingkungan hidup bantuan CSR PT Pembangkitan Jawa-Bali atau Eco Mobile PJB  mengajak tim lingkungan SMPN 19 Surabaya untuk memetakan potensi sekolah yang ada sehingga bisa menjadi program lingkungan, Senin (24/08). 

Tim lingkungan hidup SMPN 19 mengumpulkan sampah daun di halaman belakang sekolah

Tim lingkungan hidup SMPN 19 mengumpulkan sampah daun di halaman belakang sekolah

Dian Rahmawati, guru pembina lingkungan SMPN 19 Surabaya, menuturkan bahwa dirinya baru saja membentuk tim lingkungan hidup agar kegiatan lingkungan hidup di SMPN 19 Surabaya tidak berlangsung sementara. Ia juga mengaku bahwa dirinya merupakan orang baru dalam hal lingkungan sehingga ia ingin belajar lebih jauh.

Pada pembinaan bersama Eco Mobile PJB ini, tim lingkungan diajak untuk mengelilingi sekolah untuk memetakan potensi sekolah dalm waktu 15 menit. Hasilnya, berbagai potensi sekolah muncul ketika mereka berkeliling sekolah. Diantaranya, banyaknya sampah daun khususnya di daerah belakang gedung baru. Selain sampah daun, banyak pula botol plastik yang berserakan di lahan bekas pembangunan.

Namun, para kader mengaku belum punyai media komposter selain biopori. “Ayo kalian kumpulkan sampah daun serta sampah plastik. Jangan tanya dulu buat apa biar nanti kakak jelaskan,” ujar Fatih Abdul Aziz, aktivis muda Tunas Hijau.

Tim lingkungan hidup SMPN 19 ini pun diarahkan ke biopori. Sebab, sampah daun yang terkumpul akan diisikan ke biopori. Sedangkan sampah plastik dibuang ke tempat sampah. Disinilah satu potensi diketemukan yaitu banyaknya sampah daun kering dan sampah botol plastik.

Aktivis Muda Tunas Hijau Fatih Abdul Azis memandu pembinaan lingkungan hidup di SMPN 19 SurabayaHampir semua Tim Lingkungan belum tahu pasti apa fungsi lubang resapan biopori ketika Fatih bertanya kepada peserta.

Aktivis Muda Tunas Hijau Fatih Abdul Azis memandu pembinaan lingkungan hidup di SMPN 19 Surabaya

Aktivis Muda Tunas Hijau Fatih Abdul Azis memandu pembinaan lingkungan hidup di SMPN 19 Surabaya

Alasannya, saat mereka masuk SMPN 19 Surabaya lubang resapan itu sudah ada. “Jadi selain untuk peresapan air hujan, lubang biopori juga berfungsi sebagai pengomposan. Kalian lihat biopori kalian kosong melompong hanya berisi tanah kering . Seharusnya diisi oleh sampah organik seperti daun yang kalian kumpulkan tadi,” ujar Fatih Abdul Aziz.

Alangkah kagetnya ketika tim lingkungan sekolah ini akan kembali dan mereka menemui tong komposter aerob di depan lobi. “Lho, Kak, itu tong komposter aerob? Aku pikir tempat sampah,” ujar Kustianingrum penuh heran. Menurut siswi kelas VII D ini, tong itu sudah ada di lobi sejak 3 bulan yang lalu. Dan ia pikir bahwa tong itu hanya tong sampah biasa seperti tempat sampah pada umumnya. Karena sepintas terdapat banyak kesamaan.

“Kalian sebenarnya punya pengomposan seperti tong aerob ini. Tapi, tong ini sudah beralih fungsi menjadi tempat sampah,” ujar Aktivis Senior Tunas Hijau Bambang Soerjodari. Melihat itu, Bambang memberi tantangan khusus untuk SMPN 19 Surabaya yaitu pemasangan tong komposter aerob. Dan dalam jangka waktu 10 hari tong itu sudah harus berfungsi sebagai pengolah sampah organik. (fat/ro)