Kolam Ikan dan Semangat Baru SMPN 31

Ada bangunan baru yang akan difungsikan sebagai kolam ikan di SMPN 31 Surabaya. Lebarnya 1 meter. Kedalaman atau ketinggiannya juga satu meter. Sedangkan panjangnya sekitar 28 meter. “Volume kolam ikan ini sekitar 28 meter kubik,” kata Anang Yulianto, guru pembina lingkungan hidup SMPN 31 Surabaya kepada Tunas Hijau saat pembinaan lingkungan hidup Surabaya Eco School 2015 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya, Senin (28/9). 

Kolam ikan baru di SMPN 31 Surabaya

Kolam ikan baru di SMPN 31 Surabaya

Namun, Anang menjelaskan bahwa kolam itu belum diisi ikan. “Kami sudah mengajukan permohonan bantuan ikan untuk dipelihara di kolam ini ke Dinas Pertanian Kota Surabaya. Semoga segera bisa direalisasikan,” kata Anang Yulianto berharap. Menurut Tunas Hijau, pemanfaatan lahan sempit itu untuk bangunan kolam ikan sangat tepat untuk menambah keasrian sekolah.

“Berada di kawasan pesisir yang lumayan panas seperti ini, terlebih saat musim kemarau, kolam ikan bisa menjadi alternatif menambah keasrian sekolah selain penambahan pohon juga harus tetap dilakukan,” kata Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni saat berkeliling sekolah ini dalam rangka pembinaan program yang didukung PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine ini.

Sementara itu, green house sudah mulai difungsikan di sekolah ini, dengan jumlah koleksi tanaman yang masih sangat mungkin ditambah. Upaya pengurangan sampah plastik juga sudah mulai dilaksanakan dengan melibatkan penjual kantin sekolah. “Jumlah sampah plastik kemasan makanan dan minuman yang dihasilkan warga SMPN 31 sudah sangat berkurang dari bulan lalu,” ujar Anang Yulianto. Zamroni pun mengiyakannya pernyataan Anang.

Anang menjelaskan tekadnya untuk bisa merintis program-program lingkungan hidup berkelanjutan di sekolah barunya itu. Maklum, Anang ialah guru baru per tahun ajaran ini di SMPN 31. Sebelumnya dia menjadi guru SMPN 16 dan terlibat aktif pada program lingkungan hidup di sekolah yang telah mendapatkan penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional Mandiri itu.

Anggrek direncanakan menjadi ikon sekolah ini

Anggrek direncanakan menjadi ikon sekolah ini

Keberadaan mural pada hampir semua dinding pembatas sekolah dengan pesan peduli lingkungan hidup membuat suasana sekolah ini lebih bernuansa pendidikan. Meskipun, media pengolahan sampah organik menjadi kompos di sekolah ini tidak jelas keberadaannya. Namun, visi dan misi sekolah yang berpihak pada lingkungan hidup di sekolah ini diyakini Tunas Hijau bisa menjadi modal yang cukup. Terlebih tim lingkungan hidup sudah dibentuk dan terus diaktifkan. (ron)