SMPN 27 Surabaya Tak Sehat

Dampak kemarau yang belum panjang sudah sangat dirasakan di salah satu sekolah kawasan pesisir Surabaya. Sekolah itu adalah SMPN 27. Seperti yang nampak saat Tunas Hijau melakukan pembinaan dan pemantauan lapangan #‎SurabayaEcoSchool2015 ‪#‎SurabayaEcoSchool di sekolah itu, Selasa (29/9). 

Tanaman cabe di kebun SMPN 27 yang kurang perawatan

Tanaman cabe di kebun SMPN 27 yang kurang perawatan

Banyak lahan di samping dan pekarangan belakang sekolah yang tanahnya kering bahkan pecah-pecah. Kondisi ini diperparah dengan komitmen peduli lingkungan hidup kepala sekolah ini yang cukup rendah membuat sekolah ini bahkan bisa disebut TIDAK SEHAT karena bisa menyebabkan infeksi saluran pernafasan.

Tanah kering dan pecah-pecah banyak didapati di SMPN 27

Tanah kering dan pecah-pecah banyak didapati di SMPN 27

Debu tanah kering, yang seolah mendekati penggurunan, nampak menjadi pemandangan biasa bagi warga sekolah ini. “Bagi tamu sekolah, pemandangan seperti ini adalah sesuatu yang gak normal dan tidak bisa dibiarkan,” ujar Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni. Tumbuhan yang membutuhkan perawatan di sekolah itu yang juga tidak mendapatkan perhatian. Sampah non organik yang banyak dihasilkan warga ternyata tidak diolah sama sekali.

Menurut Gani, guru koordinator lingkungan hidup SMPN 27, upaya pengurangan sampah plastik bungkus makanan dan minuman dari kantin juga belum mendapat perhatian serius dari kepala sekolah. “Langkah kami terbatas karena belum ada komitmen peduli lingkungan hidup dari kepala sekolah,” kata Gani kepada Tunas Hijau.

Menurut Maulidia, langkah utama yang harus dilakukan sekolah ini adalah kerja bakti. “Kerja baktinya dengan melibatkan seluruh warga sekolah tanpa kecuali. Semua guru dan kepala sekolah juga ikut,” kata Maulidia Wardatul Jannah, siswa kelas 8 ketua tim lingkungan hidup SMPN 27.

Tumbuhan kering banyak dijumpai di SMPN 27

Tumbuhan kering banyak dijumpai di SMPN 27

Sementara itu Tunas Hijau menyarankan kepada Maulidia dan tim lingkungan hidup yang baru dibentuk sebulan lalu ini untuk tetap melaksanakan aksi nyata. “Fokus saja pada satu atau beberapa isu utama. Harus di-manage dengan serius sampai ada perkembangannya. Jangan lupa optimalkan Form Jam Hijau,” saran Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni. (*)