Tim Yel-Yel LH Berlatih, Warga SDN Wonokusumo I Seketika Berkerumun

Tim yel-yel lingkungan hidup SDN Wonokusumo I Surabaya unjuk gigi persiapan mereka menyongsong perhelatan Lomba Yel-Yel Lingkungan Hidup Surabaya Eco School 2015 yang akan dilaksanakan Minggu, 18 Oktober 2015 untuk SD/MI; Sabtu, 10 Oktober 2015 untuk SMA/SMK/MA dan Minggu, 11 Oktober 2015 untuk SMP/MTs. 

Tim yel-yel lingkungan hidup SDN Wonokusumo I sedang berlatih di sekolah disaksikan banyak warga sekolah

Tim yel-yel lingkungan hidup SDN Wonokusumo I sedang berlatih di sekolah disaksikan banyak warga sekolah

Unjuk gigi tim yel-yel sekolah yang dikepalai oleh Sartono itu dilakukan saat ‪#‎tunashijauid‬ ‪#‎tunashijau‬ melakukan pembinaan dan pemantauan lapangan gerakan peduli lingkungan hidup sekolah-sekolah Surabaya yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kota ‪#‎surabaya‬ dan didukung PT Dharma Lautan Utama dan PPS Autoshine itu, Rabu (30/9).

Menurut pengamatan Tunas Hijau, begitu tim yel-yel sekolah ini memainkan alat musik daur ulangnya atau menyanyikan menyuarakan yel-yel penyemangatnya, seketika itu warga sekolah ini berkumpul atau menyaksikannya. “Inilah tujuan utama Lomba Yel-Yel Lingkungan Hidup Surabaya Eco School. Yaitu menghibur dan berkampanye lingkungan hidup kepada internal warga sekolahnya,” ujar Aktivis Senior Tunas Hijau Mochamad Zamroni.

Sementara itu, gedung sekolah yang memiliki siswa lebih dari 1200 orang ini tergolong baru, meskipun belum sepenuhnya tuntas pembangunannya. Gedungnya minim pohon peneduh. Hanya nampak beberapa tumbuhan dalam pot yang sebagian besar pemberian orang tua siswa.

“Gedungnya baru diserahkan oleh kontraktor penggarapnya kepada Pemerintah Kota Surabaya pekan lalu. Makanya, kami belum berani melakukan pembenahan yang terkait dengan fisik sebelumnya,” kata Sartono.

Mengenai komitmen peduli lingkungan hidupnya, Sartono memastikan bahwa dirinya adalah sosok individu yang sangat peduli lingkungan hidup. “Saya bahkan sudah memelopori penanaman pohon di sepanjang Jalan Kedung Cowek sebelum tahun 2000,” terang Sartono. Baginya orang yang kaya tidak akan ada gunanya bila lingkungan hidup rusak karena berarti menghirup udara kotor juga.

Beragam program lingkungan hidup berkelanjutan juga sudah direncanakan. “Kami sudah menyiapkan media taman lahan sempit. Kami sudah menyiapkan pipa-pipa untuk pembuatan lubang resapan biopori. Saya juga merencanakan menanam banyak tanaman buah di dalam sekolah ini,” ujar Sartono. (ron)