Aksi Ngebor Lubang Resapan Biopori Hasilkan 55 Lubang di Jalur Hijau Depan SMKN 5

SURABAYA – Lubang resapan biopori tidak cukup hanya dibuat sekali saja. Perlu adanya tindakan berkelanjutan untuk menjaga lubang resapan tersebut berfungsi secara berkelanjutan. Upaya tersebut yang digalakkan kini oleh kader lingkungan SMKN 5 dengan mengajak sekolah-sekolah sekitar dan ekskul Pramuka membuat lubang resapan biopori di jalur hijau depan sekolah. Kader lingkungan yang biasa disebut Enviro Team Stemba bersama dengan Tunas Hijau menggelar aksi Eco Action yang merupakan bagian dari program Surabaya Eco School 2015.

Tatik Kustini, kepala SMKN 5,bersama dengan kader lingkungan dan anggota pramuka membuat lubang resapan biopori di depan sekolah di jalur hijau. Turut berpartisipasi juga kader lingkungan SMAN 3, SMAN 16 dan SMPN 41,

Tatik Kustini, kepala SMKN 5,bersama dengan kader lingkungan dan anggota pramuka membuat lubang resapan biopori di depan sekolah di jalur hijau. Turut berpartisipasi juga kader lingkungan SMAN 3, SMAN 16 dan SMPN 41,

Tiga sekolah turut berpartisipasi dalam pembuatan lubang resapan biopori di jalur hijau Jalan Mayjen Prof. Dr Moestopo diantaranya adalah SMAN 16, SMAN 3 dan SMPN 41. Dengan menggunakan 30 alat bor biopori dan 2 tong sampah besar penuh dedaunan, Enviro Team Stemba mengajak perwakilan sekolah yang terlibat dan teman-teman ekskul Pramuka untuk langsung membuat lubang resapan di jalur yang sudah ditentukan.

Disampaikan oleh Hadi Al Fanani, ketua kader lingkungan SMKN 5, aksi pada hari ini adalah aksi keberlanjutan dari aksi yang sudah mereka lakukan sebelumnya. “Sebelumnya, kami sudah lebih dulu membuat lubang resapan biopori. Nah, hari ini kami mengajak teman-teman untuk meneruskan area pembuatan lubang resapan biopori agar semakin meluas,” ujar Hadi, siswa kelas 12 Kimia. Dalam aksi tersebut, Hadi mengajak perwakilan sekolah dan teman-temannya untuk fokus membuat lubang resapan baru.

Alasannya, untuk lubang resapan biopori yang sudah mereka buat sebelumnya, kader lingkungan yang mempunyai target produksi 5 ton kompos ini memilih untuk melakukan pembenahan sendiri. Naufal Fauwaz, siswa kelas 11, menjelaskan, bila teman-teman ekskul Pramuka dan perwakilan sekolah membuat baru, mereka memilih untuk membuka lubang resapan biopori yang sudah lama untuk diisi sampah organik lagi.

Kader lingkungan SMKN 5, mengisi lubang resapan biopori yang dulu pernah dibuat dengan sampah organik yang baru saat aksi eco action Surabaya Eco School 2015 di jalur hijau depan sekolahnya

Kader lingkungan SMKN 5, mengisi lubang resapan biopori yang dulu pernah dibuat dengan sampah organik yang baru saat aksi eco action Surabaya Eco School 2015 di jalur hijau depan sekolahnya

“Karena pembuatan lubang resapan kali ini tanpa adanya pipa paralon, jadinya setiap lubang resapan biopori yang sudah dibuat langsung diisi dengan sampah organik hingga penuh. Tetapi tidak perlu ditutup lagi dengan tanah, kita biarkan air hujan nanti mengalir menuju rongga dedaunan,” imbuh Fauwaz. Dalam aksi pembuatan lubangresapan ini, 50 orang peserta yang terlibat berhasil membuat sebanyak 55 lubang resapan baru.

Beragam respon diberikan oleh beberapa orang perwakilan dari sekolah lainnya, salah satunya seperti Lintang Ringgit, kader lingkungan SMAN 3, yang mengungkapkan senang bisa berpartisipasi dalam kegiatan SMKN 5, terutama saat mereka bisa membuat lubang resapan bersama. “Nantinya, kami berencana mengundang kader lingkungan SMKN 5 untuk membuat lubang resapan di daerah sekolah kami, agar terjalin kerjasama yang baik,” ujar Lintang. Respon yang sama diberikan Tatik Kustini, kepala SMKN 5, yang senang dengan adanya kegiatan berkelanjutan dari anak-anaknya. (ryn)