Challenge Pekan 8 : Aksi Nyata Melibatkan Seluruh Warga Sekolah

Semarak program lingkungan di setiap sekolah perlu adanya partisipasi dari seluruh warga sekolah agar besar atau booming. Alasannya, kalau program lingkungan hidup di sekolah dikerjakan oleh kader lingkungan merupakan hal yang biasa. Berdasarkan fenomena tersebut, pekan ini mulai tanggal 12 – 18 Oktober, yakni pekan kedelapan, Tunas Hijau memberikan challenge berupa melakukan aksi nyata yang melibatkan seluruh warga sekolah.

Challenge pekan kedelapan Surabaya Eco School 2015 adalah melakukan aksi nyata dengan melibatkan seluruh warga sekolah

Challenge pekan kedelapan Surabaya Eco School 2015 adalah melakukan aksi nyata dengan melibatkan seluruh warga sekolah

Disampaikan oleh Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau, pada pekan kedelapan ini, aksi nyata yang dimaksudkan adalah aksi nyata yang berkelanjutan mengarah pada pembiasaan lingkungan di sekolah. “Tantangan yang melibatkan seluruh warga sekolah ini bertujuan sebagai upaya sosialisasi kepada warga sekolah tentang program lingkungan yang sedang dijalankan di sekolah, sekaligus sebagai media untuk mengajak warga sekolah lebih peduli terhadap lingkungan,” ujar Anggriyan.

Pada tantangan pekan kelima, sekolah diberikan tantangan untuk melibatkan seluruh warga sekolah dalam kegiatan daur ulang sampah plastik. Bedanya, tantangan pekan kedelapan ini, menantang kader lingkungan setiap sekolah untuk mengajak seluruh warga sekolah melakukan aksi nyata yang mengarah pada pembiasaan. “Salah satu contohnya adalah pembiasaan Jumat bersih yang dilakukan setiap seminggu sekali. Nah, selain Jumat bersih, aksi nyata apa yang bisa dilakukan oleh seluruh warga sekolah,” imbuh Bram Azzaino, aktivis senior Tunas Hijau.

Menurut Bram Azzaino, aktivis senior Tunas Hijau, idealnya pelaksanaan kegiatan di sekolah dilakukan oleh seluruh warga sekolah melalui kader lingkungan sebagai agen-agen atau tokohnya. “Kalau ingin membuat sebuah perubahan karakter peduli lingkungan untuk warga sekolah, tidak cukup hanya kader lingkungan saja yang mengerjakan, butuh partisipasi aktif seluruh warga sekolah,” imbuh Bram, aktivis dengan ciri khas beruban ini.

Menyikapi pelaksanaan tantangan minggu kedelapan, Anggriyan Permana, direktur Surabaya Eco School 2015, menyarankan agar kegiatan aksi nyata yang dilakukan melibatkan seluruh warga sekolah tidak hanya dilakukan secara seremonial belaka, melainkan ada hasil dan perubahan yang tampak. “Maksudnya seremonial itu adalah kegiatan yang dilakukan hanya sekali saja, setelah itu tidak ada perubahan, malah kembali seperti semula. Misalnya, saat kegiatan Jumat bersih, kalau hanya hari Jumat saja yang bersih, sedangkan hari-hari berikutnya kotor ya itu seremoni,” ucapnya.

Kembali melalui Bram Azzaino, Tunas Hijau mengingatkan kepada sekolah-sekolah yang belum mengirimkan laporan kegiatan lingkungan baik kegiatan pembiasaan maupun realisasi challenge ke email dan media sosial Tunas Hijau. “Silahkan setiap sekolah, memeriksa lagi mulai pekan pertama sampai pekan kedelapan, adakah challenge setiap pekan yang belum dikirimkan atau belum dilakukan. Karena, intensitas pengiriman laporan sekolah setiap hari atau minggunya berpengaruh pada lolos tidaknya ke tahapan kedua,” tutur Bram. (ryn)