Pekan Depan Pengerucutan 60 Sekolah Terbaik dan Workshop Tahap II

SURABAYA – Pelaksanaan program lingkungan Surabaya Eco School 2015 memasuki pekan kedelapan. Pada pekan ini, Tunas Hijau mulai menyaring sekolah-sekolah yang terus eksis dan berkelanjutan mengirimkan laporan kegiatannya melalui media sosial masing-masing. Hal tersebut dilakukan karena mulai pekan depan, tepatnya tanggal 20 Oktober, program yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya ini memasuki tahapan kedua.

Mind Map Konservasi Air Surabaya Eco School 2015

Mind Map Konservasi Air Surabaya Eco School 2015

Pada tahapan ini, Tunas Hijau akan menyaring lebih dari 1400 sekolah menjadi 60 besar sekolah mulai SD, SMP dan SMA/SMK. Menurut Bram Azzaino, aktivis senior Tunas Hijau, mengungkapkan, tahapan pengerucutan sekolah-sekolah peserta Surabaya Eco School ini akan berlangsung mulai pekan ini. “Mulai pekan ini sampai pekan depan, kami akan menyaring sekolah-sekolah yang aktif dan konsisten dalam melakukan kegiatan lingkungan di sekolahnya secara berkelanjutan,” jelas Bram Azzaino.

Ditambahkan oleh Anggriyan Permana, aktivis senior Tunas Hijau, pengerucutan sekolah-sekolah tidak hanya dilakukan pekan ini saja, melainkan mulai dari pekan pertama sampai pekan kedelapan, kinerja dan keaktifan sekolah menjadi faktor penentu. “Semua sekolah berpotensi  untuk lolos ke tahapan kedua menuju 60 Besar sekolah terbaik,  karena proses pengerucutan ditentukan dari sekolah yang aktif mengirimkan perkembangan program lingkungan yang sudah dibuat dan laporan pelaksanaan tantangan setiap minggunya,” ujar Anggriyan.

Beberapa kriteria atau tips untuk menjadi sekolah-sekolah terbaik yang akan lolos pada tahap selanjutnya disampaikan oleh Mochamad Zamroni, aktivis senior Tunas Hijau. Menurut Roni, untuk menjadi sekolah terbaik tiap pekannya, maka sedapatnya sekolah mengirimkan realisasi challenge di sekolahnya dengan dokumentasi yang jelas per bagian dan secara keseluruhan. Juga, perlu disertakan data-data terukur dalam angka yang berhasil dicapai.

“Sebenarnya tidak hanya mengirimkan laporan challenge tiap minggu saja, tetapi lebih tepatnya kegiatan pembiasaan lingkungan yang dilakukan oleh kader lingkungan atau warga sekolah juga dikirimkan ke email dan media sosial kami,” imbuh Roni. Faktanya, beberapa sekolah mengaku hanya mengirimkan laporan pelaksanaan tantangan setiap minggunya, meskipun pada realisasi kegiatan pembiasaan sudah dilakukan dan didokumentasikan.

“Ada beberapa sekolah yang memang fokusnya hanya melaksanakan tantangan mingguan dan mengirimkan laporannya. Tetapi, mereka melupakan kegiatan pembiasaan lingkungan yang dilakukan setiap harinya. Sebenarnya, mereka sudah melakukan seperti pembiasaan mengolah sampah organik atau pengomposan, tetapi tidak didokumentasikan dan dikirimkan ke Tunas Hijau,” jelas Anggriyan, menyampaikan temuan lingkungan sekolah saat pembinaan.

Setiap sekolah yang lolos pada tahapan kedua program Surabaya Eco School 2015 diharapkan menyiapkan paparan mengenai perkembangan program lingkungan di sekolah beserta capaian data terukurnya. “Misalkan, mulai pekan ketiga sampai pekan kedelapan, sekolah sudah berhasil mengolah 50 kg sampah organik dari kantin, melakukan satu kali panen kompos dan menghasilkan 20 kg kompos,” terang Bram Azzaino, aktivis yang berasal dari Makasar. (ryn)