Pindah ke Gedung Baru, Program LH SMPN 44 Mulai Nol

Pindah menempati gedung sekolah yang baru menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan program lingkungan hidup. Seperti yang dialami oleh SMPN 44 Surabaya yang sejak akhir September 2015 resmi menempati gedung sekolah yang baru di Jalan Sidodadi. 

Tempat sampah khusus sampah plastik air mineral di SMPN 44

Tempat sampah khusus sampah plastik air mineral di SMPN 44

Di gedung sekolah yang baru itu masih membutuhkan penambahan pepohonan peneduh atau pelindung. Pohon peneduh yang sudah ada adalah pohon trembesi yang terletak di bagian belakang sekolah. Tanaman lain yang nampak di sekolah ini hanya tanaman perdu/hias yang dipelihara dalam pot dan belum memberikan kesan teduh.

“Kami sempat berupaya memindahkan beberapa pohon peneduh yang sudah besar dari sekolah lama di Jalan Bolodewo 46. Ongkos memindahkannya 100 ribu rupiah per pohon belum termasuk transportasi ke sekolah baru,” ujar guru koordinator lingkungan hidup SMPN 44 Titik Yusfriyanti kepada Tunas Hijau saat pemantauan lingkungan hidup Surabaya Eco School 2015 di sekolahnya yang diselenggarakan bersama Pemerintah Kota Surabaya, Kamis (8/10).

Namun, sangat disayangkan bahwa hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Pemindahan pohon besar yang diharapkan bisa segera memberikan kesan teduh di sekolah baru ternyata tidak bisa dirasakan. Alih-alih pohon yang dipindah memberikan kesan teduh, pepohonan besar yang dipindah itu ternyata tidak bisa bertahan hidup alias mati.

Tanaman gantung di SMPN 44

Tanaman gantung di SMPN 44

Pindah ke gedung sekolah baru, menurut Titik Yusfriyanti, berdampak pada tersedotnya sebagian besar  anggaran sekolah untuk kebutuhan pindah. “Kami saat ini masih hanya eksis dengan pemilahan sampah plastik kemasan air mineral dalam tempat sampah khusus berbentuk keranjang besar buatan sendiri,” kata Titik Yusfriyanti.

Menyikapi minimnya anggaran sekolah itu, Tunas Hijau menyarankan agar bisa mengefektifkan penggunaan keranjang pengomposan takakura yang ada beberapa di sekolah. “Pengoperasiannya dengan melibatkan penjual kantin sekolah dan ditempatkan di kanting sekolah,” saran Mochamad Zamroni, aktivis senior Tunas Hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>