20 Lubang Biopori Baru SDN Putat Jaya III Langsung Serap Genangan Air

SURABAYA – Lokasi sekolah yang terletak di pemukiman padat penduduk membuat SDN Putat Jaya III berbenah menghadapi musim hujan. Ancaman banjir pasca hujan selalu datang menerjang halaman sekolah. Hal ini disebabkan kondisi halaman yang tidak rata tanahnya. Berbekal satu lonjor pipa paralon sepanjang 4 meter, Happy Aiffudianto, guru pembina lingkungan ini mengajak tim lingkungan membuat lubang resapan biopori di halaman.

Aksi penjaga sekolah SDN Putat Jaya III  membuat lubang resapan biopori di halaman sekolah dengan kondisi tanah yang keras menghadapi musim hujan agar tidak banjir

Aksi penjaga sekolah SDN Putat Jaya III membuat lubang resapan biopori di halaman sekolah dengan kondisi tanah yang keras menghadapi musim hujan agar tidak banjir

Fakta tersebut mewarnai kegiatan pemantauan lingkungan hidup yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya, Selasa (03/12).  Happy, menjelaskan, seminggu lalu, tim lingkungan hidup sekolah fokus untuk membuat lubang resapan biopori. Kerasnya tipe tanah yang merupakan tanah berbeton menjadi salah satu hambatan yang diterjang oleh mereka.

“Sebelum membuat lubang resapan biopori, kami melakukan ujicoba dulu, ternyata benar tanah yang ada di halaman sekolah ini merupakan tanah berbeton, sehingga susah untuk dibornya,” ujar Happy. Hambatan tersebut tidak menjadikan mereka putus asa untuk menyerapkan air hujan ke dalam permukaan tanah.

Pembuatan lubang resapan bioporipun harus dibantu oleh penjaga sekolah dengan menggunakan alat bantu bethel. “Sampai dengan minggu ini, kami sudah berhasil membuat 20 lubang resapan baru dan langsung bekerja menyerapkan air hujan yang turun beberapa hari lalu,” ucap Bayu, salah seorang guru pembina lingkungan.

Dampak dari pembuatan lubang resapan biopori ini disampaikan langsung oleh Dwi Herminati, kepala SDN Putat Jaya III. Menurut kepala sekolah yang baru ini, sebelum dibuat lubang resapan biopori, setiap kali hujan datang, halaman sekolah langsung tergenang air. Meskipun, halaman sekolah sudah di paving.

“Kami merasa senang sekali, meskipun dampak secara langsung masih belum kami rasakan sepenuhnya, tetapi hanya dengan 20 lubang resapan saja, halaman sekolah yang dulu tergenang air, sekarang sudah langsung surut dengan cepat,” ucap Bayu.

Target selanjutnya, mereka akan menambah jumlah lubang resapan biopori sebanyak 20 lubang, sehingga total target lubang biopori yang dibuat adalah 40 lubang resapan. Dalam pemantauan lingkungan ini, Arif Firmansyah, aktivis Tunas Hijau, menyarankan agar sekolah lebih optimal dalam melakukan pemilahan sampah.

“Kalau bisa pemilahan sampahnya harus berjalan di setiap kelas, selain itu, penjualan makanan pada kantin sekolah perlu diperhatikan, utamanya mewujudkan kantin sehat yang bebas plastik,” ucap Arif. Evaluasi pemantauan tersebut membuat pembina lingkungan multitalenta ini merencanakan mengundang petugas Dinas Kesehatan atau puskesmas terdekat melakukan sidak di kantinnya tentang makanan atau jajanan sehat. (ryn)