Sanksi Lingkungan dan Lomba Kebersihan Ala SMAN 13

Surabaya – Pengembangan lingkungan terus digalakkan oleh SMAN 13 demi mewujudkan visi sekolah berwawasan lingkungan. Tidak hanya menggiatkan aksi nyata, penerapan peduli lingkungan juga sudah meramba di kelas-kelas. Salah satunya adalah program kelas terbersih dan kelas terkotor. Program pembiasaan yang mengharuskan warga kelas menjaga kebersihan kelasnya setiap hari. Informasi tersebut didapati Tunas Hijau saat menggelar pemantauan lingkungan program Surabaya Eco School 2015 yang diselenggarakan bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya, Selasa (08/12).

Aktivis Tunas Hijau, Aulia Majid, menjelaskan cara packing yang baik kepada kader lingkungan SMAN 13 saat pemantauan lingkungan SES 2015

Aktivis Tunas Hijau, Aulia Majid, menjelaskan cara packing yang baik kepada kader lingkungan SMAN 13 saat pemantauan lingkungan SES 2015

Menurut penuturan Dwi Lucky, salah seorang kader lingkungan, setiap satu minggu sekali, kader lingkungan melakukan sidak dan penilaian kelas terbersih dan terkotor. “Aspek yang dinilai banyak, diantaranya kebersihan kelas, kerapian, tanggung jawab kelas mengelola sampah dengan memisahkannya,” ucap Lucky, siswa kelas 11. Dalam sidak, mereka mengajak guru lingkungan sebagai salah satu tim penilainya. Melalui program ini, dirinya berharap setiap siswa di kelas dapat bertanggung jawab dengab kebersihan kelasnya masing-masing hingga menciptakan suasana belajar yang enak dan nyaman.

Sebagai rewardnya, setiap kelas yang dinilai bersih akan mendapatkan bintang sebagai poinnya. Setiap awal ataupun akhir bulan, saat upacara bendera, sekolah mengumumkan kelas mana yang mendapatkan point atau bintang terbanyak. “Jadi, setiap kelas bisa mengumpulkan lebih dari satu bintang selama satu bulan, hal itu tergantung konsistensinya menjaga kebersihan. Ada juga kelas yang sudah berhasil sapu bersih,” imbuhnya. Sementara, kelas terkotor akan mendapatkan hukuman serempak dengan membersihkan sampah yang berserakan di sekolah.

Tidak hanya program kebersihan kelas, program lainnya yang berkaitan dengan penghematan energipun tegas dijalankan di sekolah. Seperti larangan untuk mengecharge handphone, laptop dan larangan penggunaan listrik untuk kebutuhan pribadi. “Salah satu sanksi yang kami berlakukan kepada siswa yang melanggar aturan tentang penghematan listrik adalah merawat tanaman, menata tanaman, mengisi tong komposter dengan sampah daun dan aksi nyata lingkungan lainnya,” terang Dwi Lucky.

Beberapa orang siswa terlihat merawat tanaman dan mengklasifikasikan tanaman sesuai jenisnya. Siswa tersebut melanggar aturan penghematan energi yang dengan sengaja mengcharge HP nya di kelas

Beberapa orang siswa terlihat merawat tanaman dan mengklasifikasikan tanaman sesuai jenisnya. Siswa tersebut melanggar aturan penghematan energi yang dengan sengaja mengcharge HP nya di kelas

Dalam pemantauan lingkungan yang digelar mendadak, kader lingkungan yang biasa disebut Galas Eco School terlihat melakukan proses packing kompos yang sudah dipanen. Kompos hasil pengolahan sampah daun tersebut dikemas di plastik sebesar 5 kg. Valia Septi Arin, salah seorang kader lingkungan lainnya, menjelaskan kompos yang sudah dikemas akan dijual kepada guru-guru maupun masyarakat sekitar. “Biasanya satu pack dihargai sebesar 5000 – 7000 rupiah. Hasil penjualan pupuk kompos itu kami gunakan untuk pembenahan sarana lingkungan,” ujar Valia, siswa kelas 11.

Lebih lanjut, Aulia Majid, aktivis Tunas Hijau, menyarankan untuk mengoptimalkan inovasi tanaman hidroponiknya. Alasannya, setelah tahun lalu sukses dengan inovasi hidroponiknya, tahun ini hidroponik mereka hanya tinggal instalasinya saja. “Pesan saya, kalau memang hidroponiknya tidak digunakan ya lebih baik disimpan, tetapi kalau mau digunakan ya silahkan diaktifkan kembali,” ucap Aulia Majid. (ryn)