SMAN 3 Optimalkan Lubang Biopori Hadapi Musim Hujan

SURABAYA – Musim hujan telah tiba, momen ini yang telah dinanti oleh kader lingkungan hidup SMAN 3 untuk mengoptimalkan upaya konservasi air. Pasca Ujain Akhir Semester, mereka langsung berupaya untuk membuat lubang resapan biopori di area sekolah. Tujuannya adalah untuk meresapkan sebanyak mungkin air hujan ke dalam permukaan tanah. Informasi tersebut disampaikan saat Tunas Hijau melakukan pemantauan di sekolahnya, Senin (07/12).

Kader lingkungan SMAN 3 menambah terus jumlah lubang resapan biopori untuk mengoptimalkan penyerapan air hujan ke dalam tanah mmemanfaatkan musim hujan

Kader lingkungan SMAN 3 menambah terus jumlah lubang resapan biopori untuk mengoptimalkan penyerapan air hujan ke dalam tanah mmemanfaatkan musim hujan

Disampaikan oleh Lintang Ringgit, salah seorang kader lingkungan, sejak datangnya musim hujan, mereka terus mengoptimalkan lubang resapan biopori sebagai media penangkap air hujan.  “Musim hujan ini menjadi berkah kami untuk mengoptimalkan lubang resapan biopori. Anak-anak selalu menyempatkan diri setelah pulang sekolah mengisi lubang resapan biopori dengan sampah organik dedaunan yang banyak di sekolah,” ujar Lintang, siswa kelas 11.

Pengoptimalan lubang resapan ini digalakkan di sekolah yang beralamatkan di jalan  Memet Sastrowiryo, Komplek TNI-AL Kenjeran, karena letak sekolah yang dekat dengan Pantai Kenjeran, menjadikan lubang resapan biopori ini sebagai upaya pencegahan masuknya air laut ke dalam permukaan tanah. Dijelaskan oleh Sumini, guru pembina lingkungan, dengan adanya lubang resapan biopori, beberapa titik genangan air di sekolah sudah hilang.

“Biopori yang ada di sekolah kami memang banyak, tetapi kami juga tidak memungkiri kalau ada yang tidak dioptimalkan. Tetapi, banyak yang sudah mulai dioptimalkan. Jadi, selama musim hujan ini, fokus kami adalah mengoptimalkan dan menambah daerah resapan air,” jelas Sumini. Pasca UAS, menjadi saat yang tepat bagi kader Eco SMAGA sebutan kader lingkungan sekolah untuk menambah jumlahnya.

Setelah UAS selesai, kader lingkungan SMAN 3 terus melakukan upaya perawatan dan pengoptimalan lubang biopori agar air hujan yang datang tidak langsung lari ke selokan, melainkan diserap ke dalam tanah oleh lubang biopori

Setelah UAS selesai, kader lingkungan SMAN 3 terus melakukan upaya perawatan dan pengoptimalan lubang biopori agar air hujan yang datang tidak langsung lari ke selokan, melainkan diserap ke dalam tanah oleh lubang biopori

Sementara itu, tidak hanya lubang resapan biopori saja, mereka juga mengoptimalkan pengolahan sampah organik dengan skala komunal di area samping sekolah. Setiap hari, mereka mengolah sampah organik dedaunan untuk dikumpulkan di area pengomposan. “Setelah dikumpulkan, kami beri tambahan air agar kondisi sampah organiknya lembab, dengan begitu pengomposan akan berjalan,” ujar Dani Andri, siswa kelas 11. Tidak jarang, setiap seminggu sekali mereka melakukan proses pembalikan kompos untuk  mendapatkan hasil maksimal. (ryn)