SMKN 5 Optimis Panen 5 Ton Kompos Di Akhir SES 2015

SURABAYA – Target 5 ton yang disampaikan oleh kader lingkungan SMKN 5 saat workshop I Surabaya Eco School 2015 segera tercapai. Bukan sekedar ngomong, mereka membuktikan hingga menjelang akhir program lingkungan hidup yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya dengan berhasil memanen lebih dari 3 ton. Fakta tersebut disampaikan ketua Enviro’s team Stemba, Hadi Al Fanani, saat pemantauan lingkungan di sekolahnya, Rabu (03/12).

Setiap hari kader lingkungan SMKN 5 memanen kompos yang ada pada 18 kotak pengomposan untuk mencapai target pengomposan sebanyak 5 ton pada gelaran Surabaya Eco School 2015

Setiap hari kader lingkungan SMKN 5 memanen kompos yang ada pada 18 kotak pengomposan untuk mencapai target pengomposan sebanyak 5 ton pada gelaran Surabaya Eco School 2015

Hadi menyampaikan hingga pekan kedua belas lalu, mereka sudah berhasil memanen 3 ton lebih kompos dari pengolahan sampah organik yang ada di sekolah. “3 ton tersebut sudah habis dibeli oleh salah seorang warga di kampung Mojo, yang juga salah seorang walimurid di sekolah. Pupuk kompos tersebut akan dijual kembali kepada pembeli di masyarakat. Warga tersebut merupakan distributor kami,” ucap Hadi, siswa kelas 12.

Selebihnya, siswa jurusan Kimia Analis ini menambahkan selain 3 ton yang sudah terjual, masih ada dua kotak besar yang berisi kompos belum dihitung. Alasannya, selama setiap hari mereka memanen kompos, kompos hasil ayakan hanya dikumpulkan terlebih dahulu, setelah itu baru dihitung. “Karena kami kejar target dengan setiap hari panen kompos, hasil kompos sementara ini masih dikumpulkan saja, tetapi kalau diperkirakan sudah menghasilkan 4 ton, kami optimis target 5 ton kompos akan terpenuhi di akhir program,” tutur Hadi optimis.

Sebagian kompos yang sudah dipanen digunakan untuk memulai program pertanian sayur atau biasa  disebut urban farming di lahan kosong depan basecamp mereka

Sebagian kompos yang sudah dipanen digunakan untuk memulai program pertanian sayur atau biasa disebut urban farming di lahan kosong depan basecamp mereka

Dalam pemantauan lingkungan di sekolah yang berlokasi di jalan Mayjen Prof. Dr. Moestopo No.167-169, Tunas Hijau tidak hanya menemukan aktivitas panen kompos, persiapan lahan untuk urban farming saja, beberapa hal perlu diperbaiki oleh mereka. Seperti yang disampaikan oleh Arif Firmansyah, aktivis Tunas Hijau, salah satu sudut yang harus mendapat perhatian lebih adalah saluran air. “Saluran air di depan kantin sekolah kalian perlu diperhatikan, karena masih ada sampahnya,” ucap Arif

Hasil evaluasi yang diberikan Tunas Hijaupun langsung ditanggapi oleh mereka dengan merencanakan melakukan aksi bersih-bersih saluran air. Tidak hanya dilakukan pada saluran air di depan kantin saja, mereka berencana untuk mengecek kondisi saluran air yang di dalamnya terdapat sampah. “Karena sudah memasuki musim hujan, kami akan giat melakukan pengecekan dan pembersihan saluran air, agar sekolah kami tidak banjir saat hujan dan saluran airnya tetap bersih setiap hari,”ucap Catur Wijaya, siswa kelas 12. (ryn)