Konjen Amerika Ikut Panen Bersama 2 Ton Kompos SDN Sambikerep II

Panen kompos bersama SDN Sambikerep II Surabaya bersama Konjen Amerika Serikat

Panen kompos bersama SDN Sambikerep II Surabaya bersama Konjen Amerika Serikat

SDN Sambikerep II Surabaya bersama Tunas Hijau Indonesia dan Konjen Amerika Serikat di Surabaya melakukan Panen Kompos Raya di SDN Sambikerep II Surabaya, Jumat (2/9) pagi. Panen Kompos Raya ini dilakukan sebagai penutup dari program wirausaha lingkungan hidup Ecopreneur 2016 yang diselenggarakan Tunas Hijau Indonesia bersama Pemerintah Kota Surabaya pada Maret – Juni 2016. Panen raya ini sekaligus memulai Surabaya Eco School 2016 di SDN Sambikerep II. 

Lebih dari 2 ton kompos diharapkan bisa dihasilkan dari panen kompos ini, yang merupakan peningkatan jumlah target dari produksi kompos yang mencapai 1,6 ton pada tahun 2015.
Hadir dari Konjen Amerika Serikat pada Panen Kompos Raya ini ialah Christine Getzler-Vaughan, public affairs US Consulate General Surabaya.

Hadir juga camat Sambikerep, Kepala UPTD BPS Surabaya 4 Haryono, perwakilan Koramil Sambikerep dan perwakilan Polsek Sambikerep. Ada juga utusan siswa dan guru sekolah sekitar yang terdiri dari SDN Sambikerep I, SDN Sambikerep III, SDN Beringin dan SDN Made I.

Kehadiran Christine Getzler – Vaughan, public affairs US Consulate General Surabaya, bersama Camat, Koramil dan Polsek setempat menjadi penghargaan bagi warga sekolah

Kehadiran Christine Getzler – Vaughan, public affairs US Consulate General Surabaya, bersama Camat, Koramil dan Polsek setempat menjadi penghargaan bagi warga sekolah

Achmad Sudarmawan, guru pembina lingkungan hidup SDN Sambikerep II, merasa sangat terkejut panen kompos kali ini dikemas dengan melibatkan beberapa tokoh masyarakat. “Saya gak menyangka Konjen Amerika Serikat berkenan ikut hadir. Ini merupakan apresiasi tersendiri bagi kami,” ujar Sudarmawan.

Dalam sambutannya, Kepala SDN Sambikerep II Yani Suhardini menjelaskan bahwa untuk bisa melaksanakan pengolahan sampah organik menjadi kompos tentunya harus memilah sampah terlebih dahulu. “Sampah organik yang mau diolah kompos harus dipilah dari sampah non organik,” kata Yani Suhardini.

Sampah non organik bisa didaur ulang menjadi kerajinan secara manual. “Sampah non organik bisa juga didaur ulang secara industri dengan menjualnya ke pengepul,” jelas Yani Suhardini meneruskan sambutannya. Proses pengomposannya sekitar tiga bulan. “Sampah organiknya dari sampah dedaunan sekolah dan pasar tradisional sekitar sekolah,” tutur Yani.

Sementara itu Christine Getzler – Vaughan, public affairs US Consulate General Surabaya mengaku sangat senang bisa hadir pada panen kompos. “Ibu saya seorang guru di Amerika Serikat. Di sekolahnya, ibu saya juga mengajak siswa-siswanya untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. Jumlahnya tidak sebanyak ini,” ujar Christine.

Suasana menjadi heboh ketika Christine bersama kepala sekolah dan beberapa tamu lainnya mulai memanen kompos. Christine nampak memegang sekop dan memindahkan kompos ke atas ayakan untuk dilakukan penyaringan. Setelah kompos cukup banyak, Christine lantas mengajak beberapa siswa bersama-sama menggoyangkan kompos yang berukuran lembut. Kompos yang masih berukuran besar dikumpulkan lagi untuk dibusukkan kembali. (ron)