Tim Jingle SMPN 23 Surabaya Rekaman Jingle Lingkungan Hidup

Tim jingle SMPN 23 SurabayaKegembiraan nampak di wajah seluruh anggota tim jingle lingkungan hidup SMPN 23 Surabaya. “Yeay…Horee, akhirnya bisa rekaman juga di studio rekaman yang asli,” teriak Victoria Tobing, salah seorang anggota tim jingle lingkungan SMPN 23 di studio musik Nada Musika Surabaya. 

Ungkapan kegembiraan itu spontan keluar tidak hanya diucapkan oleh mantan siswa SDN Barata Jaya Surabaya saja, anggota tim jingle lingkungan yang lainpun histeris meluapkan kegembiraannya untuk kali pertama bisa rekaman lagu lingkungan hidup “Zero Waste”.

Keceriaan tersebut tergambar saat Tunas Hijau mendampingi mereka melakukan proses rekaman lagu lingkungan yang mengantarkan mereka menjadi jawara Lomba Jingle “Zero Waste” Surabaya Eco School 2016 tingkat SMP, Kamis (12/01).

Beranggotakan 15 orang yang terdiri dari pemain perkusi, keyboard dan penyanyi. Untuk kali pertama, lagu berjudul “Bumi Ini Pun Menangis” berhasil membuat mereka menjadi jawara lomba jingle tingkat SMP.

Seperti yang disampaikan oleh Halimah, salah seorang guru pembina lingkungan yang turut mendampingi mereka rekaman di Nada Musika Studio, lomba jingle lingkungan menjadi target capaian mereka pada gelaran Surabaya Eco School 2016.

“Fokus kami tahun ini dalam ajang atau perlombaan yang diselenggarakan Tunas Hijau adalah lomba jingle lingkungan. Alasannya, kami sebelumnya sudah pernah menjadi juara lomba yel-yel lingkungan hidup. Kami berambisi untuk bisa menjadi sekolah yang pernah menjadi juara pada semua ajang lomba lingkungan SES 2016,” tegas Halimah.

Agar dapat menggapai target tersebut, mereka sudah mempersiapkan lagu lingkungan bahkan latihan penuh selama dua bulan sebelum pelaksanaan lomba. Selama proses rekaman berlangsung, masing-masing anggota tim jingle memiliki kesan tersendiri mulai dari yang grogi, gemetaran, suara tidak mau keluar hingga salah nada atau ketukan.

Seperti yang diungkapkan oleh Samuel Tafma W, salah seorang pemain perkusi dari tong sampah bekas. Siswa kelas 8 ini menuturkan sempat salah ketukan yang mengakibatkan dirinya bersama teman-teman perkusi lainnya harus mengulang beberapa kali untuk menyelaraskan dengan tempo lagunya.

“Ya awalnya sempat grogi sih, Kak, saking groginya jadi salah ketukan. Tapi setelah itu semuanya lancar. Senang rasanya bisa rekaman beneran di studio musik,” tuturnya.  Sama Halnya yang disampaikan oleh Diana, salah seorang penyanyi yang masih tidak percaya dirinya berhasil mendengarkan suaranya sendiri di studio rekaman.

Halimah, guru yang terkenal murah senyum ini mempunyai keinginan untuk bisa membuat video klip dari lagu jingle mereka. “Kami ingin sekali setelah rekaman selesai langsung bisa membuat video klipnya, tempatnya ya biar di ambil angle di sekolah saja. Karena kami ingin menonjolkan keunggulan sekolah di bidang lingkungan,” ujar Halimah kepada Tunas Hijau.

Surabaya Eco School 2016 diselenggarakan Tunas Hijau bersama dengan Pemerintah Kota Surabaya serta didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, PT Dharma Lautan Utama, PO Mentari Pagi dan PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur. (ryan/ron)